Heboh Bocornya Data Facebook

Firma Cambridge Analytica (CA) diduga keterlibatannya dalam kebocoran data dari 50 juta pengguna Facebook. Mereka juga dituding menggunakan data curian tersebut untuk mempengaruhi pengguna Facebook untuk memilih Donald Trump dalam Pemilihan Umum Presiden Amerika Serikat (Pilpres AS) tahun 2016 lalu.

Caranya adalah dengan mengembangkan teknik untuk mencuri data Facebook menggunakan kuis kepribadian yang bertajuk “This Is Your Digital Life”. Kuis ini menggunakan sebuah algoritma yang secara personal akan memprofil dan menargetkan pengguna facebook yang berada di usia pemilih.

CA sendiri adalah perusahaan yang dimiliki oleh seorang miliarder teknologi bernama Robert Mercer. Salah satu jajaran direksinya yaitu Steve Bannon dilantik sebagai penasihat Donald Trump.

Akan tetapi CA membantah tuduhan pencurian data itu. Mereka mengaku tidak pernah menggunakan data Facebook ketika Pilpres AS tahun 2016.

Skandal kebocoran data Facebook ini pun berbuntut ajakan untuk menghapus dan tidak lagi menggunakan media sosial tersebut. Salah satunya adalah dengan naiknya popularitas hashtag #DeleteFacebook di Twitter sejak Selasa 20 Maret 2018. Karena Ratusan Juta pengguna mempertanyakan bagaimana sistem keamanan pada akun facebook sampai akhirnya data mereka bisa bocor.

Tagar tersebut pertama kali dicuitkan oleh salah satu pendiri WhatsApp, Brian Acton. Dia menuliskan “it is time #deletefacebook” alias “ini saatnya menghapus Facebook” pada akun Twitter @brianacton.

Kicauan tersebut dianggap penting oleh warganet mengingat posisi WhatsApp sebagai aplikasi berkirim pesan terbesar yang ada saat ini. Penjualannya ke Facebook pada tahun 2014 lalu bernilai cukup fantastis, yakni mencapai hampir US$ 19 miliar, atau sekitar Rp 261 triliun.

Facebook juga akhirnya buka suara mengenai apa yang dilakukan dua pimpinannya, Mark Zuckerberg & Sheryl Sandberg setelah munculnya laporan penyalahgunaan data pengguna oleh Cambridge Analytica tersebut. Keduanya disebut, sedang mencoba fokus mengatasi masalah yang melibatkan data puluhan juta para pengguna Facebook ini.

“Mark, Sheryl serta tim menganggap masalah ini serius, mereka bekerja sepanjang waktu untuk mengumpulkan fakta dan mengambil langkah yang tepat ke depannya,” kata pihak Facebook dalam pernyataannya.

Pemilik WhatsApp dan Instagram itu juga menegaskan komitmennya untuk melindungi data semua orang.

Sistem Pendeteksi Akun Abal-Abal di Media Sosial yang Bernama Botmeter

Sudah menjadi hal umum bahwa di media sosial tak semuanya orisinil. Akun sosmed pun bisa dipalsukan. Caranya adalah dengan cara membuat akun robot atau lebih sering disebut akun bot.

Untuk menanggulanginya, berbagai penyedia layanan ketiga terus berusaha untuk menghilangkan akun-akun bot tersebut.

Salah satunya adalah tim dari kampus Indiana University dan Northeastern University asal Amerika Serikat (AS), yang mengembangkan sebuah sistem bernama Botmeter.

Hal itu terkait banyaknya akun bot yang masih menjadi isu di media sosial, terutama di Twitter, yang umumnya menyebarkan cerita tertentu, bahkan seringkali sebuah cerita hoax.

Botmeter tersebut dapat mengenali lebih dari seribu faktir, mulai dari berbagai cuitan termasuk metadata bagaimana serta dari mana unggahan hingga komposisi pengikut akun tersebut.

“Kami menggunakan banyak faktor untuk menghitung skor,” ujar Onur Varel, peneliti dari Northeastern University yang terlibat dalam proyek itu seperti yang dikutip The Verge.

Berdasarkan teori yang digunakan dalam sistem itu, bila angka Botmeter masih di bawah 40 persen, kemungkinan akun tersebut adalah akun sungguhan, bukan robot.

Varel tidak mengklaim sistem tersebut betul-betul akurat untuk membuat kesimpulan sebuah akun adalah bot karena sistem masih dikembangkan.

Tim peneliti juga secara aktif mengumpulkan berbagai data untuk dimasukan ke dalam sistem yang bernama Bot Repository. Varel mengakui bahwa akun bot saat ini semakin kompleks dan sulit dikenali jika dibandingkan dengan awal-awal kemunculannya pada tahun 2011, saat ia pertama kali mempelajari akun robot.

Akun bot seringkali cukup identik dengan akun media sosial selebritas. Selebritas yang terkenal biasanya memiliki jutaan pengikut yang ingin tahu kabar idolanya. Namun ternyata tidak semua selebriti sosmed memperoleh follower dengan cara alami.

Yang terbaru, laporan dari The New York Times mengungkap bahwa sejumlah selebritas juga kerap membeli follower palsu.

Mengutip laman Gizmodo, berdasarkan penelusuran The New York Times, 15 persen dari follower di Twitter kemungkinan adalah akun bot.

Media besar tersebut juga menulis sejumlah nama seleb sosmed yang diduga membeli follower palsu. Misalnya ada nama aktor John Leguizamo, Michael Dell miliarder CEO Dell, seorang petinggi Twitter Martha Lane Fox, hingga musisi DJ Snake.

Masih menurut laporan yang sama, ada kemungkinan akun-akun bot ini bertujuan untuk monetisasi. Selebritas dengan banyak pengikut atau yang sering disebut sebagai influencer dan menggunakan akun media sosial pribadinya untuk mendapatkan tawaran kerja sama iklan dari brand/merk sebuah produk ternama.

Oleh karena itu, semakin banyak follower yang dimiliki, makin banyak pula bayaran yang didapatkan oleh influencer tersebut dari sponsor.

Pendiri Moz sebuah perusahaan SEO, Rand Fishkin, mengatakan dengan banyaknya jumlah follower atau jumlah retweet, orang-orang akan menganggap selebritas atau influencer tersebut sebagai orang penting atau cuitannya dibaca oleh banyak orang.

“Alhasil, orang-orang mungkin cenderung mem-follow selebritas tersebut atau membagikan apa yang diunggahnya,” katanya.

Twitter memang menginvetigasi adanya akun-akun palsu alias spam. Kendati begitu, Twitter tidak selalu memblokir pengguna yang sengaja membeli follower palsu.

Sejak awal kemunculan akun bot-bot ini, sistem keamanan dari berbagai media sosial memang dipertanyakan. Namun mereka selalu mengklaim bahwa kemunculan bot bukan berarti data pengguna juga ikut terseret dalam rawannya sistem keamanan. Mereka mengklaim bahwa data pengguna ada di sisi lain dari celah keamanan mereka dan sangat terjaga.